*

Rekaman Video Sex Cewek Bugil Telanjang Ngentot

Kalau dibandingkan dengan Pak Bakri, memang sodokan Fandy lebih mantap selain karena usianya masih 30-an, badannya juga lebih berisi daripada Pak Bakri yang tinggi kurus seperti Datuk Maringgih itu. Di tengah badai kenikmatan itu sekonyong-konyong aku melihat sesuatu yang bergerak-gerak di jendela kamarku. Kufokuskan pandanganku dan astaga…ternyata si Lidya, dia sedang disetubuhi dari belakang dengan posisi menghadap jendela, tubuhnya terlonjak-lonjak dan terdorong ke depan sampai payudaranya menempel pada kaca jendela, mulutnya tampak mengap-mengap atau terkadang meringis, sungguh suatu pemandangan yang erotis.


Ini adalah kelanjutan kisah pesta seks yang kami lakukan bersama dengan teman-teman satu geng di kampus tempatku kuliah. KISAH SEBELUMNYA SILAHKAN BACA KLIK DI SINI ! Adegan itu ditambah serangan Fandy yang makin gencar membuatku makin tak terkontrol, pelukanku semakin erat sehingga toketku tertekan ke toketnya, kedua kakiku menggelepar-gelepar menepuk permukaan air. Aku merasa detik-detik orgasme sudah dekat, maka kuberitahu dia tentang hal ini. Fandy memintaku bertahan sebentar lagi karena dia juga sudah mau keluar.

Susah payah aku bertahan agar bisa klimaks bersama, setelah kurasakan ada cairan hangat menyemprot di rahimku, akupun melepas sesuatu yang daritadi ditahan-tahan. Perasaan itu mengalir dengan deras di sekujur tubuhku, otot-ototku mengejang, tak terasa kukuku menggores punggungnya. Beberapa detik kemudian badanku terkulai lemas seolah mati rasa, begitu juga Fandy yang jatuh bersandar di pinggir kolam. Aku berbaring di pinggir kolam di atas lantai marmer, kedua payudaraku nampak bergerak naik turun seiring desah nafasku. Kugerakkan mataku, di jendela Lidya dan Pak Bakri sudah tak nampak lagi, di sisi lain Dian yang sudah pulih merendam dirinya di air dangkal untuk membasuh tubuhnya.

Kami beristirahat sebentar, bahkan beberapa diantara kami tertidur. Pesta dimulai lagi sekitar pukul 8 malam setelah makan. Kami mengadakan permainan gila, ceritanya kami bertiga bermain poker dengan taruhan yang kalah paling awal harus rela dikeroyok kedua penjaga villa itu dan diabadikan dalam video klip dengan HP Nokia model terbaru milik Lidya, filenya akan disimpan dalam komputer Lidya untuk koleksi dan tidak akan boleh dicopy atau dilihat orang lain selain geng kami, mengingat kasus bokep Itenas. Kami duduk melingkar di ranjang, Pak Bakri dan Fandy kusuruh menjauh dan kularang menyentuh siapapun sebelum ada yang kalah, mereka menunggu hanya dengan memakai kolor, sambil sebentar-sebentar mengocok anunya sendiri Aku mulai membagikan kartu dan permainan dimulai. Suasana tegang menyelimuti kami bertiga, setelah akhirnya Dian melempar kartunya yang buruk sambil menepuk jidatnya, dia kalah. Kedua orang yang sudah tak sabar menunggu itu segera maju mengeksekusi Dian.

Dian sempat berontak, tapi berhasil dilumpuhkan mereka dengan dipegangi erat-erat dan digerayangi bagian-bagian sensitifnya. Fandy menyusupkan tangannya ke kimono Dian meraih payudaranya yang tak memakai apa-apa di baliknya. Pak Bakri menyerang dari bawah dengan merentangkan lebar-lebar kedua paha Dian dan langsung membenamkan kepalanya pada kemaluannya yang terawat dan berbulu lebat itu. Perlakuan ini membuat rontaan Dian terhenti, kini dia malah mengelus-elus kontol Fandy yang menegang sambil memejamkan mata menikmati memeknya dijilati Pak Bakri dan toketnya diremas Mulkas. Aku melihat lidah Pak Bakri menjalar jari belahan bawah hingga puncak kemaluan Dian, lalu disentil-sentilkan pada klistorisnya. Dian tidak tahan lagi, dia merundukkan badan untuk memasukkan kontol Fandy ke mulutnya, benda itu dikulumnya dengan rakus seperti sedang makan es krim. Event menarik itu tidak dilewatkan Lidya dengan kamera-HP nya.

Dian terengah-engah melayani kontol super Fandy, sepertinya dia sudah tidak peduli keadaan sekitarnya, rasa malunya hilang digantikan dengan hasrat yang besar untuk menyelesaikan gairahnya. Dia mempertunjukkan suatu live show yang panas seperti aktris bokep dan Lidya sebagai juru kameranya. Pak Bakri yang baru saja melepaskan kolornya menggesek-gesekkan benda itu pada bibir kemaluan Dian, sebagai pemanasan sebelum memasukinya. Kemulusan tubuh Dian terpampang begitu Fandy menarik lepas tali pinggang pada kimononya, sesosok tubuh yang putih mulus serta terawat baik diantara dua tubuh hitam dan kasar, sungguh perpaduan yang kontras tapi menggairahkan. Pak Bakri mempergencar rangsangannya dengan menciumi batang kakinya mulai dari betis, tumit, hingga jari-jari kakinya. Dian yang sudah kesurupan ‘setan seks’ itu jadi makin gila dengan perlakuan seperti itu

“Ahhh…awww…Pak enak banget….masukin aja sekarang !!” rintihnya manja sambil meraih kontol Pak Bakri yang masih bergesekan dengan bibir memeknya. Pak Bakri pun mendorong kontol itu membelah kedua belahan kemaluan Dian diiringi desahan nikmat yang memenuhi kamar ini sampai aku dibuat merinding mendengarnya. Aku mengeluarkan payudara kiriku dari balik kimono dan meremasnya dengan tanganku, tangan yang satu lagi turun menggesek-gesekkan jariku ke kemaluanku, Lidya yang juga sudah horny sesekali mengelus kemaluannya sendiri. Dian nampak sangat liar, kemaluannya digenjot dari depan, dan Fandy yang menopang tubuhnya dari belakang meremasi kedua payudaranya serta memencet-mencet putingnya. Rambutnya yang sudah terurai itu disibakkan Fandy, lalu melumat leher dan pundaknya dengan jilatan dan gigitan ringan. Hal ini menyebabkan Dian tambah menggelinjang dan mempercepat kocokannya pada kontol Fandy.

Serangan Pak Bakri pada memek Dian semakin cepat sehingga tubuhnya menggelinjang hebat. “Aaakhhh…aahhh !!” jerit Dian dengan melengkungkan tubuhnya ke atas Dian telah mencapai orgasme hampir bersamaan dengan Pak Bakri yang menyemprotkan spermanya di dalam rahimnya. Adegan ini juga direkam oleh Lidya, difokuskan terutama pada wajah Dian yang sedang orgasme. Tanpa memberi istirahat, Fandy menaikkan Dian ke pangkuannya dengan posisi membelakangi. Kembali memek Dian dikocok oleh kontol Fandy. Walaupun masih lemas dia mulai menggoyangkan pantatnya mengikuti kocokan Fandy. Fandy yang merasa keenakan hanya bisa mengerang sambil meremas pantat Dian menikmati pijatan kemaluannya. Pak Bakri mengistirahatkan kontolnya sambil menyusu dari kedua payudara Dian secara bergantian. Aku semakin dalam mencucukkan jariku ke dalam memekku saking terangsangnya, sampai-sampai cairanku mulai meleleh membasahi selangkangan dan jari-jariku.

Bosan dengan gaya berpangkuan, Fandy berbaring telentang dan membiarkan Dian bergoyang di atas kontolnya. Kemudian dia menyuruh Lidya naik ke atas wajahnya agar bisa menikmati kemaluannya. Lidya yang daritadi sudah terangsang itu segera melakukan apa yang disuruh tanpa ragu-ragu. Seluruh wajah Fandy tertutup oleh daster transparan Lidya, namun aku masih dapat melihat dia dengan rakusnya melahap kemaluannya sambil menyusupkan tangannya dari bawah daster menuju payudaranya. Pak Bakri yang anunya sudah mulai bangkit lagi menerkamku, kami berguling-guling sambil berciuman penuh nafsu. Dengan tetap berciuman Pak Bakri memasukkan kontolnya ke memekku, cairan yang melumuri selangkanganku melancarkan penetrasinya. Dengan kecepatan tinggi kontolnya keluar masuk dalam memekku hingga aku histeris setiap benda itu menghujam keras ke dalam. Aku cuma bisa pasrah di bawah tindihannya membiarkan tangannya menggerayangi payudaraku, mulutnya pun terus menjilati leherku. Aku masih memakai kimonoku, hanya saja sudah tersingkap kesana kemari.

Aku melihat Fandy masih berasyik-masyuk dengan kedua temanku, hanya kali ini Lidya sudah bertukar posisi dengan Dian. Sekarang mereka saling berhadapan, Lidya bergoyang naik turun diatas kontol Fandy sambil berciuman dengan Dian yang mekangkangi wajah Fandy. Dian membuka kakinya lebar-lebar sehingga cairannya semakin mengalir, cairan itu diseruput dengan rakus oleh si Fandy sampai terdengar suara sluurrpp…. sshhrrpp…Ketika aku sedang menikmati orgasmeku yang hebat, dia tekan sepenuhnya kontol itu ke dalam dan ini membawa efek yang luar biasa padaku dalam menghayati setiap detik klimaks tersebut, tubuhku menggelinjang dan berteriak tak tentu arah sampai akhirnya melemas kembali. Pesta gila-gilaan ini berakhir sekitar jam 11 malam. Aku sudah setengah sadar ketika Pak Bakri menumpahkan maninya di wajahku, tulang-tulangku serasa berantakan. Dian sudah terkapar lebih dulu dengan tubuh bersimbah peluh dan ceceran sperma di toketnya, dari pangkal pahanya yang terbuka nampak cairan kewanitaan bercampur sperma yang mengalir bak mata air.

Sebelum tak sadarkan diri aku masih sempat melihat Fandy menyodomi Lidya yang masih dalam gaun transparan yang sudah berantakan, tubuh keduanya sudah mandi keringat. Karena letih dan ngantuk aku pun segera tertidur tanpa kupedulikan jeritan histeris Lidya maupun tubuhku yang sudah lengket oleh sperma. Besok paginya aku terbangun ketika jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi dan aku hanya mendapati Dian yang masih terlelap di sebelah kiriku. Kuguncang tubuh Dian untuk membangunkannya.
“Gimana Dah…puas semalem ?” tanyaku
“Gila gua dientotin sampe kelenger , barbar banget tuh dua orang, eh…omong-omong pada kemana yang lain si Lidya juga ga ada ?”
“Ga tau juga tuh gua juga baru bangun kok, duh lengket banget mandi dulu yuk…udah lengket gini” ajakku karena merasa tidak nyaman dengan sperma kering terutama di wajahku, rasanya seperti ada sarang laba-laba menempel di sana.

Baru saja keluar dari kamar, sayup-sayup sudah terdengar suara desahan, kuikuti asal suara itu yang ternyata dari kamar mandi. Kami berdua segera menuju ke kamar mandi yang pintunya setengah terbuka itu, kami tengok ke dalam dan melihat Lidya dan kedua penjaga villa itu. Darahku berdesir melihat pemandangan erotis di depan kami, dimana Lidya sedang dikerjai oleh mereka di lantai kamar mandi. Fandy sedang enak-enaknya mengocok senjatanya diantara kedua gunung bulat itu, sedangkan Pak Bakri berlutut diantara paha jenjang itu sedang menyetubuhinya, air dan sabun membuat tubuh mereka basah berkilauan. Kedatangan kami sepertinya tidak terlalu membuat mereka terkejut, mereka malah menyapa kami sambil terus ‘bekerja’. Aku dengan tidak terlepas dari live show itu berjalan ke arah shower dan membuka kimonoku diikuti Dian dari belakang. Air hangat mengucur membasuh dan menyegarkan tubuh kami, kuambil sabun cair dan menggosokkannya ke sekujur tubuh Dian. Demikian juga Dian dia melakukan hal yang sama padaku, kami saling menyabuni satu sama lain.

Kami saling mengelus bagian tubuh masing-masing, suatu ketika ketika tanganku sampai ke bawah, iseng-iseng kubelai bibir kemaluannya sekaligus mempermainkan klistorisnya.
“Uuhh...Ci !!” dia menjerit kecil dan mempererat pelukannya padaku sehingga buah toket kami saling berhimpit. Tangan Dian yang lembut juga mengelusi punggungku lalu mulai turun ke bawah meremas bongkahan pantatku. Darahku pun mengalir makin cepat ditambah lagi adegan panas Lidya dengan kedua laki-laki itu membuatku makin naik. Dian mendekatkan wajahnya padaku dan mencium bibirku yang terbuka karena sedang mendesah, selama beberapa menit bibir kami berpagutan. Kemudian aku memutar badanku membelakangi Dian supaya bisa lebih nyaman menonton Lidya.

Aku melihat wajah horny Lidya yang cantik, dia meringis dan mengerang menikmati tusukan Pak Bakri pada memeknya, sementara Fandy hampir mencapai orgasmenya, dia semakin cepat menggesek-gesekkan kontolnya diantara gunung kembar itu, tangannya pun semakin keras mencengkram daging kenyal itu sehingga pemiliknya merintih kesakitan. Akhirnya menyemprotlah spermanya membasahi toket, leher dan mulut Lidya. Mataku tidak berkedip menyaksikan semua itu sambil menikmati belaian Dian pada daerah sensitifku. Dengan tangan kanannya dia memainkan payudaraku, putingnya dipencet dan dipilin hingga makin menegang, tangan kirinya meraba-raba selangkanganku. Perbuatan Dian yang mengobok-obok memekku dengan jarinya itu hampir membuatku orgasme, sungguh sulit dilukiskan dengan kata-kata betapa nikmatnya saat itu.

Aku masih menikmati jari-jari Dian bermain di memekku ketika Fandy yang baru menyelesaikan hajatnya dengan Lidya berjalan ke arahku, kontolnya agak menyusut karena baru orgasme. Jantungku berdetak lebih kencang menunggu apa yang akan terjadi. Tangannya mendarat di payudara kiriku dan meremasnya dengan lembut sambil sesekali memelintirnya. Lalu dia membungkuk dan mengarahkan kepalanya ke payudara kananku yang langsung dikenyotnya. Aku memejamkan mata menghayati suasana itu dan mengeluarkan desahan menggoda. Lalu aku merasakan kaki kananku diangkat dan sesuatu mendesak masuk ke memekku. Sejenak kubuka mataku untuk melihat, dan ternyata yang bertengger di memekku bukan lagi tangan Dian tapi kontol Fandy yang sudah bangkit lagi. Kembali aku disetubuhi dalam posisi berdiri sambil digerayangi Dian dari belakang. Tubuhku seolah terbang tinggi, wajahku menengadah dengan mata merem-melek merasakan nikmat yang tak terkira.

Hampir satu jam lamanya kami melakukan orgy di kamar mandi. Akhirnya setelah mandi bersih-bersih kami bertiga mencari udara segar dengan berjalan-jalan di kompleks sekalian makan siang di sebuah restoran di daerah itu. Setelah makan kami kembali ke vila dan mengepak barang untuk kembali ke Jakarta. Dian dan Lidya keluar dari kamar terlebih dulu meninggalkanku yang masih membereskan bawaanku yang lebih banyak. Cukup lama juga aku dikamar gara-gara sibuk mencari alat charge HP-ku yang ternyata kutaruh di lemari meja rias. Waktu aku menuju ke garasi terdengar suara desahan dan ya ampun...ternyata mereka sedang bermain ‘short time’ sambil menungguku.

Dian yang celana panjang dan dalamnya sudah dipeloroti sedang menungging dengan bersandar pada moncong mobil, Pak Bakri menyodokinya dari belakang sambil memegangi payudaranya yang tidak terbuka. Sementara di pintu mobil, Lidya berdiri bersandar dengan baju dan rok tersingkap, paha kirinya bertumpu pada bahu Fandy yang berjongkok di bawahnya. Celana dalamnya tidak dibuka, Fandy menjilati kemaluannya hanya dengan menggeser pinggiran celana dalamnya, tangannya turut bekerja meremasi payudara dan pantatnya.
“Wah...wah wah...masih sempat-sempatnya lu orang, asal jangan kelamaan aja, ntar kejebak macet kita di jalan” kataku sambil geleng-geleng kepala.
“Tengan neng ga usah buru-buru, masih pagi kok, ini cuma sebentar aja kok” tanggap Pak Bakri dengan terengah-engah

Akhirnya setelah 15 menitan Pak Bakri melepas kontolnya dan memanggilku untuk bergabung dengan Dian menjilatinya. Aku tadinya menolak karena tak ingin make upku luntur, tapi karena didesak terus akhirnya aku berjongkok di sebelah Dian.
“Tapi kalo keluar lu yang isep ya, ntar muka gua luntur” kataku padanya yang hanya dijawab dengan anggukan kepala sambil mengulum benda itu. Sesuai perjanjian tidak lama kemudian Pak Bakri menggeram dan cepat-cepat kuberikan kontol itu pada Dian yang segera memasukkan ke mulutnya. laki-laki itu mendesah panjang sambil menekan kontolnya ke mulut Dian, Dian sendiri sedang menyedot sperma dari batang itu, sepertinya yang keluar tidak banyak lagi soalnya Dian tidak terlalu lama mengisapnya.
“Yuk cabut, udah ga haus lagi kan Dah ?” ujar Lidya yang sudah merapikan kembali pakaiannya.

Kami naik ke mobil dan kembali ke kota kami dengan kenangan tak terlupakan. Dalam perjalanan kami saling berbagi cerita dan kesan-kesan dari pengalaman kemarin dan membicarakan rencana untuk mengerjai si Rani yang hari ini absen.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment